Manic-Panic-Terbesar-Di-Indonesia


Kontak-Manic-Panic

Choose An Expert Level

My-Insurance-Agency

Meet and share bersama bokapnya

Mulai dari TK sampai SMA gue selalu memilih sekolah berdasarkan tempat dimana enci gue pilih (FOLLOW AJA secara dia beda setahun sama gue hahaha) karena itulah nyasar deh gue di sekolah SMAK 1 BPK PENABUR JAKARTA, jujur aja waktu gue tes disana gue biasa aja dan saat gue keterimapun gue biasa aja, sampai pada akhirnya gue tahu, ternyata yang diterima di sekolah tersebut adalah orang – orang terpilih (kalau ga percaya coba aja deh tanya – tanya ke anak sekolah tentang SMAK 1, hehehehe)

Di sekolah inilah hidup gue drastis berubah, ternyata bener diatas langit masih ada langit, gue ketemu banyak orang yang ngeselin (dalam artian terlalu sempurna, udah tampang oke, duit banyak, pinter, jago olahraga, attitudepun juga luar biasa) secara dulu itu gue ngerasa paling diatas.

Saat gue mulai menyadari hal itu, langsung saja gue berlari mengejar mereka sampai pada akhirnya gue lelah untuk mengejar mereka yang terlalu jauh berada di depan.

Singkat cerita, bertemulah gue dengan seorang sahabat bernama Christin dimana ada sebuah kalimat yang tanpa disadari merubah cara pandang gue jauh lebih baik tentang kehidupan. Apa itu?

Berawal dari ulangan minggu lalu dibagikan, rata – rata nilai murid di kelas gue merah semua, kecuali sahabat gue itu dia mendapatkan nilai sempurna 100 (terpikir di otak gue, what kind of monster is it?) akhirnya, ulangan minggu lalupun diulang dengan persyaratan akan diambil nilai terbaik antara ulangan yang lalu dan ulangan yang baru.

Sebelum ujian yang diulang tersebut berlangsung, gue melihat Christin tetap belajar untuk menghadapi ujian tersebut. Aneh kan? padahal meskipun ulangan kali ini dia dapet 0 sekalipun tetep saja dia akan mendapatkan nilai 100 karena yang akan diambil nilai terbaik antara ujian sebelumnya dengan ujian sekarang (secara ujian sebelumnya dapet 100 gituuuu)

KEPO-LAH GUE UNTUK BERTANYA, kurang lebih seperti ini :

Gue : Tin, lu ngapain belajar sih kan udah dapet 100 mending lu ijin keluar?
Christin : Kalau gue ga gitu klass (panggilan gue waktu di SMA dulu), bagi gue hidup itu kaya main game tapi dalam setiap permainan gue selalu memilih level yang tersulit.

akhirnya, kalimat tersebut gue jadikan quotes dan gue permanis dengan menggunakan bahasa inggris

“Life is like a game, but i choose an expert level”

Life-is-like-a-game

choose your level for your life

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *